Tuesday, March 29, 2011

..... dibuang sayang bagian 3 .....

GALILEA WENT TO JOGLO

(JOGya – SoLO)

 

 

Jumat – 11 Juni 2010: Yogya hari pertama

 

Sampai dimana ini?  Sepertinya sudah hampir pagi.  Jalanan sudah mulai terang sedikit-sedikit (‘terang tanah’).  Mencoba memperhatikan papan-papan dipinggir jalan untuk mencari nama daerah, tapi tidak terbaca saking remeng-remengnya cahaya lampu.  Yang pasti arah Yogya to J.  Ketika sudah agak terang barulah terbaca ‘Tojong atau Tanjung’ (tetep gak bisa baca).  Disebuah simpang tiga, pak sopir membelokkan mobil ke kiri, dan kira-kira 15 menit kemudian terlihat pompa bensin.  Horeeee…… kita berhenti.   Ternyata sampai di daerah Bumiayu, tiba disana sekitar jam 6:00.  “Ayo, ayo turun.  Yang kencing, yang kencing.”

 

 

 

Pompa bensin bepelataran luas ini cukup bersih.  Di belakangnya ada bangunan yang terdiri dari: paling kanan tempat istirahat sopir; ditengah ‘toilet vip’ dan musola; paling kiri toko kecil jualan snack etc, tapi juga menyediakan teh panas, kopi, jahe.  Galileans yang sudah kebelet langsung ke toilet, sebagian cari minuman hangat.  Toiletnya bersih lho.  Selain toilet juga tersedia kamarmandi.  Buang air kecil Rp1,000, air besar dan mandi berapa ya?  Galileans yang gak punya uang ribuan atau lupa bawa uang untuk bayar toilet, gak usah khawatir, banyak yang ‘nraktir’ toilet kok ….. J

 

Namanya juga Galileans.  Setiap kali berhenti, dan setiap kali lihat orang pegang camera, pada sakauw semua, sakauw photo.  Langsung pasang badan untuk photo session.  Walaupun badan lelah, masih ngantuk, belum gosok gigi, masih bau bantal, tapi semangat photo tetap menggebu-gebu.  Belum mandi pun Galileans tetep okey-okey lho!

 

Photo session di Bumiayu

 

Terlihat PK kumpul dan mengadakan rapat kecil.  Kira-kira 20 menit kemudian, PK memberi pengumunan:

 

“Karena tidak mungkin sampai di Yogya jam 9:00, maka bagi yang perlu mandi, silakan mandi di sini, atau hanya mau cuci muka, gosok gigi dan ganti baju, silakan.  Perjalanan ke Yogya, menurut pak sopir, kira-kira masih 4 jam lagi.  Ada sedikit perubahan acara, sesampainya di Yogya, kita hanya akan mampir hotel, belum check-in, untuk ambil mbak Tri, mbak Nur, makan siang dan snack, kemudian langsung ke Prambanan.”

 

Okay, okay.  Rame-rame minta pak Soleh, kernet, buka bagasi.  Semua ambil keperluan masing-masing, sikat gigi, handuk, make-up etc….. rame, seperti rombongan TKI pulang kampung.  Yang paling panjang antriannya adalah tempat gosok gigi dan cuci muka, secara wastafel-nya hanya ada 3.  Yang sempat mandi siapa saja ya?  Ochie, Nanto … siapa lagi yang mandi?  Sudah bayar belum?  Ada yang ganti baju di kamar mandi, ada yang ganti baju di dalam bis (dikamarnya pak sopir J)  Menyambut hari baru para Galileans segar semua, wangi semua, dan melanjutkan perjalanan ke Yogya dengan suka-cita.

 

buka bagasi bis, ambil koper masing-masing

 

mbak Syan mau mandi?

 

Irma bersolek, biar segar

 

Meninggalkan Bumiayu sekitar jam 07:30, kearah Selatan lewat Ajibarang, Wangon, Rawalo, Sumpyuh, Gombong, Karanganyar, Kebumen.  Sampai Wates (kalau gak salah lho ya) pak Priyo, sopir berkumis, memilih jalan alternative, kearah selatan – jalan Daendeles.  Katanya jalannya kecil, tapi gak rame dan lebih singkat, yang tembus-tembus sudah sampai Bantul.  Ya nurut saja, wong gak ngerti jalan J

 

Dalam perjalanan Bumiayu-Yogya, sekitar jam 8:00-an, PK meng-contact mbak Tri untuk memberitahu bahwa, jam kedatangan Galileans tidak sesuai dengan schedule.  Mbak Tri sudah di Yogya, sedang akan menjemput mbak Nur plus snack.  PK meminta mereka menunggu Galileans di hotel saja.  Kalau sudah dekat hotel, PK akan menelpon mereka, agar mereka menunggu di pinggir jalan bersama snack dan makan siang, karena Galileans akan langsung ke Prambanan.  Oh ya, arisan kocokan pertama di tarik.  Yang dapet sapa ya?  Mbak Nani dan Isam ya?

 

Masuk Bantul sekitar jam 11:00-an dan sampai di tempat mbak Tri dan mbak Nur menunggu sekitar jam 12:00-an.  Mas Rio, mas Irvi dan mas Miko turun untuk membantu ngangkat box makan siang dan snack, sementara bis cari ‘U-turn’ di ringroad.  Makanan naik, mbak Tri dan mbak Nur naik….. bis rame lagi, rame kangen-kangenan sama mbak Tri dan rame kenal-kenalan sama mbak Nur.  Box makan siang dibagikan, Galileans makan di bis dalam perjalanan ke Prambanan.  Galileans makan = bis sepi.

 

Wisata Prambanan ini di-PIC-in oleh mas Pram dan Linda.  Tapi, karena dua-duanya sibuk makan, sampai lupa tugas mereka, whahahaha…..  (betul begitu kah?)  Sampai di Prambanan sekitar jam 12:30.  Pengumuman oleh PIC: “Galileans, disini waktunya satu jam saja.  Jadi sudah harus berada di bis jam 13:30”.  Turun dari bis ….. puang!!!…. huah…. ditampar hawa panas sekaleeeee……  Di Prambanan ini mataharinya ada 3 lho, puanasnya minta ampyun.  Persewaan payung laku.  Yang mencolok adalah payung warna merah dan shocking pink, berpinggir kuning-coklat, motif ukir-ukir, bertuliskan IRMA……  Sepertinya IRMA sudah membuka agen sewa-menyewa payung terbesar di Prambanan J  Galileans tidak ada yang sewa, karena sudah ‘sedia payung sebelum kepanasan dan kehujanan’.

 

 

Sambil menunggu ibu Dewi ATM membeli ticket, Galileans yang tak ‘tahan’ langsung cari toilet, dan yang tak ‘tahan’ juga mulai ‘merambah’ tenda-tenda souvenir di dekat bis.  Apa yang dibeli?  Ooooo topi to, biar gak kepanasan ya.  Okay-lah…. mari bergerak, menunggu pembagian ticket ditempat teduh. Ticket dibagikan dan Galileans masuk ke pelataran Candi Prambanan.  Ticket yang dibagikan seperti ticket Trans-Jakarta, setebal kartu kredit.  Agar ‘pintu’ terbuka, ticket harus di ‘scan’.  Mesin pintu-nya ada yang rusak, macet….  Pasti gak di service dan dipelihara.

 

Ternyata tidak semua ikut masuk atau jalan ke candi.  Ada tiga orang yang jalan kearah ‘cho-cho train’ sambil cari buah saga, ada 3 orang yang takut panas, pilih duduk-duduk di gazebo.  Sebagian besar naik ke candi dan maniac photo habis-habisan.  Ada beberapa Galileans yang ternyata belum pernah sama sekali ke Prambanan lho!  Good lah, jadi sekarang bisa liat deh.

 

Masih jam 13:25 ketika terdengar melalui ‘hallo-hallo’: “Pengumuman.  PS Galilea dari Jakarta dimohon segera kembali ke bis, karena perjalanan akan dilanjutkan”.  Halah…..  bikin malu aza…..  Dibacainnya dua kali lagiiiiiiiiii…………. :p  Semua balik ke bis dan berangkat menuju Kota Gede.  Mbak Nur minta diturunkan di daerah nJanti.  (Pasti mbak Nur sudah bosen wisata Jogya ya?)

 

Photomaniac Team

 

'ngeyup' Team

 

Dari Prambanan menuju Kotagede.  PIC wisata perak adalah Franky dan mb’Syan (wong belum curhat kok sudah dipasangin sih?).  Secara mas Franky penduduk Jogya, jadi lancar sekali menerangkannya, sementara mb’Syan hanya menyetujui dengan senyuman saja.  Sampai di Kota Gede sekitar jam 13:30 lebih-lebih dikit lah….  Langsung parkir di depan workshop perak-nya pak Harto Suhardjo.  Di pintu workshop Galileans disambut oleh guide, dibawa ke depan sebuah papan display, dan guide menerangkan proses pembuatan perak, dari mulai biji, sampai menjadi benang-benang perak, sampai menjadi kalung, bros, anting, cincin dan segala macam hiasan lain.  Galileans mendengarkan dengan penuh perhatian J  Setelah itu Galileans dibawa ketempat kerjanya.  Hampir semua dikerjakan secara manual, ya membentuk, menyolder, me-lem.  Galileans seneng melihatnya dan ‘appreciate’ karena pembuatannya rumit dan harus teliti.

 

sang PIC didepan pintu masuk pengrajin perak Harto Suhardjo

 

“Semua hasil produksi bisa di lihat di showroom…”, begitu ujar guide.  Berbondong-bondonglah Galileans ke showroom, tapi tak seorang pun membeli… karena …. harganya mahal.  Gak belanja gak masalah lah, tapi malah bikin ‘keributan’ di teras….. wah-wah-wah….. sampai diliatin mbak-mbak dan mas-mas yang jaga L  Mungkin mereka dalam hati berkata: “Penampilan okey semua, tapi duwit gak duwé, malah gawé ribut nang kéné.”

 

gak pada beli perak, malahan main dakon

 

Kunjungan selanjutnya Kasongan.  Pada tau gak kasongan itu tempat apa?  Biar Galileans paham, PIC Betsy dan Nanto memberikan informasi tentang tempat tersebut.  Nanto bicara, Betsy peraga.  Ternyata dari hasil pantomime dan info, Kasongan adalah tempat kerajinan gerabah temans J.  Sampai di Kasongan sekitar jam 15:00-an.  Menurut informasi, daerah Kasongan ini tutup pada jam 16:00, jadi Galileans hanya punya waktu satu jam saja.  Bis berhenti di depan sebuah toko yang cukup besar.  Galileans menyebar, karena banyak toko-toko lain disekitarnya.  Ada yang belanja, ada liat-liat saja, ada yang liat-liat kemudian tertarik dan beli-beli, ada yang duduk sambil jajan bakso dan wedang ronde…..  sambil dihibur pengamen yang ber-ndhang-dhut ria.  Asyiiikkk.  Suasana tambah rame ketika mas Pram dan mas Rio ikut ngamen!!  (Mudah-mudahan Nanto segera meng-edit video film-nya, jadi bisa liat mereka yang bergabung dengan pengamen.)  Galileans, pada ngasih saweran ke pengamennya gak?

 

njajan bakso dan ronde.... suegerrrrrr

 

Berbelanja di Kasongan tidak perlu khawatir nenteng-nenteng barang.  Kalau yang dibeli besar-besar, kaya ‘loro blonyo’ atau guci-guci besar, tinggal kasih alamat ke penjual, bayar barang di tambah ongkos kirim, dijamin barang akan sampai di rumah dengan selamat.

 

..... mas Pram, yang pegang dan beli .....

 

..... yang pegang-pegang, masih mikir beli atau gak .....

 

.... gak pegang dan gak beli.... :D

 

Jam 17:00 semua sudah ada di bis untuk segera menuju hotel.  Di dalam bis rame, saling mengeluarkan barang yang dibeli.  Ternyata yang paling banyak dibeli adalah ‘alat pijet’.  Maklum, sudah pada pegel semua badannya, sudah tulang-tulang tua semua J.  “Mbak Wati nyobain dong alat pijetnya, kalau enak aku juga mau”, kata kak Zella.  “Enak kok Zel.  Cepetan beli mumpung masih disini”, jawab guru BP.  Kak Zella: “Dedy, tolong dong kamu turun beliin alat pijet kayak punya mbak Wati.”  Dedy turun beli, Dedy naik ngasih barangnya ke Zella.  Terus ada yang minta dibeliin lagi, Dedy turun lagi, beli lagi, naik lagi…… Ealah kacian betul Dedy.  (Apakah alat pijetnya pada dipakai semua?)

 

Kunjungan Kasongan selesai.  Bis langsung meluncur ke Hotel Kusuma.  Letak Hotel Kusuma itu disebuah jalanan sempit, pas untuk dua mobil.  Terus sekarang dimasukin bis Blue Star yang besar dan panjang.  Ungkeg sana, ungkeg sini, mundur dikit, maju dikit…. yang di dalam bis stress.  Tapi berkat keahlian pak Priyo, bis dapat parkir dengan manisnya di depan hotel (walaupun sempat nyenggol lampur signage J).  Tas-tas turun, kunci dibagikan, dan masuk kamar masing-masing.

 

Galileans memakai kamar dari no. 12 s/d 24 kalau gak salah.  Kamar-kamar mengelilingi sebuah taman kecil….  Lebih tepat dibilang losmen daripada hotel…….  (Menurut cerita, ternyata Hotel Kusuma itu dulunya rumah kost-kost-an, terus diubah fungsinya menjadi hotel J)  Setiap kamar berisi dua orang.  Tempat tidurnya queen size bed, dengan satu selimut berwarna shocking pink!  Selimut satu untuk berdua?  Pasti rebutan deh.  Disetiap kamar ada TV, AC, air panas dan dingin, shower, ember buesar untuk menampung air, dan closet duduk.  Kacian lho, ada beberapa  kamar yang AC-nya tidak dingin tapi panas, kamar te’Meidy-mbak Christine dan kamar te’Ivy-te’Nani.  Mungkin bukan ‘air conditioning’ yang dipasang tapi ‘angin cepoi-cepoi’.  Untung bisa dibetulkan, walaupun beberapa kali (lebih dari 5 kali) listriknya ‘njegleg’, lampu mati, karena gak kuat.  Celakanya, begitu lampu mati, AC-nya yang sudah dingin menjadi panas lagi….. :D  Sebel gak sih?  Niat bikin hotel mbok ya daya listriknya di tambah to.

 

Jam 18:30 hampir semua sudah mandi.  Makan malam box yang disediakan segera di santap oleh Galileans yang tidak pernah kenyang…..  Ketika sedang makan, datanglah mas Sunu dan mbak Yati, kemudian pak Gogo, isteri dan anak-anaknya.  Sesuai schedule diadakan ibadah malam, yang dimulai sekitar jam 7:00pm, dipimpin oleh ‘Ketua Yayasan’, te’Ivy.  Mudah-mudahan semua masih ingat apa yang di ‘khotbahkan’ te’Ivy.  (Hari Kamis musti di tanya satu-satu.)

 

ada yang serious dengerin renungan .....

 

 

yg ini gak serious, pada photo bersama .... :)

 

Ibadah malam selesai.  Galilean kembali heboh mau ‘pintong’ (pindah tongkrongan) ‘wisata beringin’ – sayang gak semua bisa ikut, karena cuapek.  PIC-nya Irma dan Isam.  Ada 2 mobil yang bisa dipakai, mobil kijang mbak Tri dan satu avanza sewaan.  Yah, mobil kijang ban-nya kempes.  Gak tau keberatan muatan (isi 10 buesar-buesar), atau memang kurang angin.  Untung tidak jauh dari Hotel Kusuma ada angin.  Yang pintong berangkat, yang tidak ikut pintong (te’Ivy, Zella, budhé) masih duduk-duduk sambil ngobrol nemenin mas Sunu, mbak Yati, pak Gogo dan isterinya.  Sementara te’Medy, mb’Christine, Sandra, Inge, Isam dan Mario sudah masuk kamar dan zzzzzzz……… (lho secara Isam adalah PIC, kok gak ikut ya?)  Tamu-tamu pulang, te’Ivy, te’Zella dan budhé masuk kamar, lèyèh- lèyèh.

 

Lagi enak-enaknya tiduran sambil nonton TV tiba-tiba listrik mati.  Budhé keluar kamar dan duduk diteras.  Ternyata te’Ivy juga lagi duduk di teras karena ada tamu.  Lampunya mati agak lama.  Budhé tanya ke petugas: “Mati sedaya nggih pak?” (Mati semua ya pak?)  Petugas: “Nggih bu.  Sajake saking PLN, gentosan.”  (Iya bu, dari PLN gantian.)  Budhé: “Weleh, oglangan to?  Tekan jam pira iki?” (Weleh, giliran to?  Sampai jam berapa?)  Petugas: “Dugi enjang mbok menawi.” (Sampai pagi mungkin.)  Matek lah ….. panas, banyak nyamuk, mati lampu pula……   Tapi kira-kira 30 menit kemudian lampu nyala lagi.

 

Sekitar jam 23:00-an (mungkin lho) yang pada pintong ('pindah tongkrongan' - minjem istilah temen-temen 'sahabat museum') baru pada pulang.  Langsung pada ganti baju, cuci kaki dan tidur …. (ada yang gak cuci kaki kah ….. J langsung nggloso?)

 

Cerita yang pintong:

Tujuan utama wedangan di Raminten, tapi ‘ra isa’ (gak bisa), karena penuh.  Pintong pindah ke alun-alun, tetep wedangan, ditambah sepedaan dan nyoba jalan diantara beringin (namanya juga ‘wisata beringin’).  Sewa sepeda tandem bersadel 3, limabelasrebu (Rp15,000) untuk 4 putaran.  Pilotnya mas  Nanto seputaran, dan mas Rio untuk 3 putara !!!!…… sampai nafasnya ‘menggèh-menggèh’, kehabisan napas dan tenaga - lha wong yang dibelakang berbadan besar semua dan tidak mau ‘nggenjot’.  Bagaimana dengan beringin?  Siapa yang suskses bisa jalan lurus diantara beringin?

 

yang naik sepeda tandem..... 'sopirnya' sampai gempor :D

 

Kisah dibuang sayang

Lokasi: – Hotel Kusuma – Waktu:  – Pagi hari

Ada seorang laki-laki ‘lulusan rsj Pakem cumlaude’, namanya Clay.  Waktu lan-jalan Clay lupa bawa jelly untuk men-jigrak-kan rambutnya.  Masuklah ia ke kamar sebelah, ke kamar Mayo, sambil berkata: “Mayo, bagi jelly-nya dong.”  Mayo tak menjawab, hanya menatap Clay dengan wajah aneh.  Clay heran, ada apa ini?  Dan barulah Clay sadar bahwa, Mayo tidak punya rambut…..

 

...buang sayang bagian 2 ......

GALILEA WENT TO JOGLO

(JOGya – SoLO)

 

 

Kamis, 10 Juni 2010 – Keberangkatan

 

Galileans diharapkan berkumpul jam 19:00, dimulai dengan makan malam dan kemudian berlatih lagu-lagu yang akan di‘layan’kan (bukan dilayangkan lho, kan mau pelayanan) di GKI Ngupasan, Jogya dan GKJ Manahan, Solo.

 

Mulai jam 06:30pm satu persatu Galileans berdatangan dengan menarik atau menenteng koper, ada yang besar, ada yang kecil dan masih di tambah lagi tas-tas jinjing lain berisi selimut, bantal kecil, jacket, shawl, dan tentu saja makanan kecil alias snack……  Galileans berkumpul di teras gereja, sambil ngobrol sana sini, sambil nunggu makan malam dan latihan.  Tak lama kemudian ibu Dewi datang dengan box makanan dan box minuman.  Terus dibawa ke atas, ke aula!  Lho, bukannya makan diteras, latihan di gedung gereja?  Ternyata saat itu gedung gereja sedang ‘acak-acakan’, tempat duduknya ditumpuk-tumpuk, karena lantainya sedang di poles biar kinclong, dan aula disediakan untuk berkumpulnya para Galileans.  Ternyata lagi mas Rio dan mbak Inge sudah ada di aula.  Yukkkkk mareeee ke aula, sementara minta tolong pak Satpam untuk mengawasi koper-koper yang ditinggal di teras gereja.

 

Di dalam aula.  Rame-rame ambil nasi box, cari tempat duduk yang nyaman, dan tiba-tiba suasana yang hingar bingar menjadi sepi….., mengapa?  Karena semua mulut berisi nasi dan ayam goreng.  Sesekali ada teriakan sana sini: ‘siapa mau ayam goreng?’ – ‘ada yang gak mau sambal gak?  sambalku kurang nih.’ ‘aku gak makan telor, ada yang mau gak?’ etc.

 

Selesai makan Galileans duduk manis sesuai masing-masing suara dan mulai berlatih.  Sementara yang lain berlatih, ibu Ochie dan ibu Dewi duduk asyik di pojokan.  Ternyata sedang menghitung dan membagi uang menurut keperluan, dan menyiapkan undian kamar.  Sekitar jam 20:30 latihan disudahi dan diadakan pengambilan undian kamar (gak boleh milih pasangan tidur).  Setelah itu ibu Ochie mencatat siapa-siapa dikamar mana.

Menghitung iuran dan membuat undian kamar

 

Pengumuman kamar

 

 

 

 

Selesai pembagian kamar ibu Ochie berkata: “Teman-teman, bis sudah datang.  Silakan turun, bawa koper masing-masing ke bis dan pak kernet akan membatu mengaturnya di bagasi bis, cari tempat duduk, duduk manis dan kita akan berdoa di dalam bis sebelum berangkat.”

 

Semua sudah naik bis.  Galileans yang tidak ikut tapi nyusul pakai pesawat juga ikut naik (kepengin.com).  Ada Pdt. Lazarus yang mengantarkan isterinya (padahal Pdt. Lazarus juga kepengin_ikut.com lho, tapi harus pergi ke Amric), ada pakdhe dan pak Odang yang juga mengantar isteri-isterinya, ada pak Bune yang mengantar kakaknya.  PK meminta kesediaan Pdt. Lazarus untuk memimpin doa: “Mari saudara-saudara kita berdoa ………  amin.  Okay, cipika-cipiki dengan yang ditinggalkan dan ……yaaaaak, tarik mang!

 

 

Bis bergerak.  “Daag-daag-daag!!!!!  Selamat melayani yaaaa….. TUHAN berkati”, begitu teriakan orang-orang yang ada di bawah menyemangati Galileans J  Bis mengarah ke toll Simatupang lewat Jl. Fatmawati.  Yah, sudah lewat jam 21:30 kok Fatmawati masih macet to.  Galileans masih pada ribut ngobrol dengan sesama teman duduk.  Ditengah ‘hiruk-pikuk’ PK memberi pengumuman:  “Teman-teman, untuk selingan selama perjalanan, kita akan mengadakan arisan yang akan ditarik setiap hari.  ‘Urunannya’ hanya Rp10,000 per kepala.  Apakah teman-teman setuju?”  Galileans:  “Setujuuuuuuu.”  PK:  “Setiap narik yang dapat 2 orang.  Nanti Dewi akan keliling untuk menariki uangnya.”  (Ada yang berpikir: per Per kepala hari Rp10,000.  Peserta 30 orang = Rp300,000.  Sekali narik 2 orang @ Rp150,000….. lumayannnnn buat beli oleh-oleh….  Ternyata ‘urunannya’ sekali saja, jadi 10,000x30=300,000 dibagi 3 hari, dibagi dua… = Rp50,000…. Lumayan dapat tas batik 2 J)

 

Lepas dari keruwetan Fatmawati, kira-kira sampai di toll Simatupang, mas Pram bilang: “Ach, gak lucu ach kalau jam segini udah pada tidur.  Kita bikin permainan yuk.”  Weleh-weleh mas Pram, gak boleh loh malem-malem masih main, kan harus tidur J  Pertama mas Pram ‘ngajari’ nyanyi: ‘tempe digandhulke lawang, mlebu-metu dithithili 2x – rasane enak, rasane enak – tempe digandulke lawang mlebu metu di thithili’.  Kayaknya Galileans pada males nyanyi, karena lagunya pakai bahasa Jawa….. banyak yang perlu interpreter …. hahahaha.

 

Terus mas Pram bikin permainan lain, namanya: ‘judul bersambung’.  Galileans dibagi dua group, deretan kiri dan deretan kanan.  Kira-kira permainannya seperti ini:  Group kanan menyebutkan judul film atau lagu, misalnya ‘Bandung Lautan Api’, group kiri harus menyebut judul film atau lagu lain dengan memakai kata yang ada di judul pertama, misalnya sambungannya ‘Api di Bukit Menoreh’……. Dan seterusnya.  Yang salah jawab diturunin di jalan….. L  Rame sekali permainan ini, karena jawabannya pada ‘ngasal’ dan ‘ngawur’ semua, jadi lucunya gak karuan.  Masak lagu ‘la vida loca’ diterusin dengan ‘loka-loka bandung’ mana ada…….. hwahahaha……  Ketawa cekakakan, ketawa sampai sakit perut, sampai pipi kenceng, ngatuknya sampai hilang.  Apalagi kalau sudah mendengar Irma dan Linda tertawa…… bisa ketularan ketawa lho.  Permainan berakhir menjelang keluar toll Cikampek.  Suasana bis berubah sepi, hanya sesekali terdengar suara tertawa ala ‘kunti’ yang khas dan renyah (kayak rempèyèk).

 

Dan tiba-tiba sampailah disebuah tempat macet, yang uwel-uwelan, dipenuhi bis-bis besar dan truk-truk besar.  Ngeri, ngeri ngglundhung ke pinggir, karena jalannya bis sampai mepet-mepet ke pinggiran jalan.  Jalannya juelek sekali.  Dimana ini?  Ternyata di daerah Sukamandi, ada perbaikan jalan dan pengalihan traffic.  Jalan tersendat dilakoni sampai hampir satu jam, atau malah lebih dari satu jam.  Lepas dari jalan rusak, bis bisa melaju, tidak mulus sih masih sedikit anjrut-anjrutan, karena jalanan pantai utara banyak berlubang.  Tapi lebih lancar dari sebelumnya.  Kemudian …… sepi, yang terdengar hanya mesin bis dan ….. zzzzzzz, groookkkkk, ngiiiikkkk… zzzzzz, grooookkkk …… semua tidur.  Sorry, gak semua bisa tidur lho.  Ada yang mencoba tidur tapi gak bisa, ada yang gak bisa tidur terus ngobrol sama sebelahnya.  Wis pokoke macem-macem.  Maklum Galileans sudah banyak yang ‘tidak muda lagi’ dan sudah ‘tidak pernah’ bepergian dengan bis malam lagi.

 

..... dibuang sayang .....

sudah hampir setahun, tapi masih terasa 'efek'-nya sampai sekarang....   tap pasang di MP-ku, biar teman-teman paduan suara Galilea bisa baca, walaupun gak bisa komentar (kecuali yang punya MP).  selamat membaca dan mengenang 'suasana' saat itu....

 

GALILEA WENT TO JOGLO - (JOGya – SoLO)

Persiapan

 

Bermula dari sentilan yang di lontarkan seorang ‘bayi gurita’, Irvi: “Gimana sih, aku ke Jawa Tengah nganterin Hosiana, nganterin Wilayah.  Kapan nganterin Galilea nih?”  Maka tergeraklah hati pengurus dan secara kilat terbentuk Panitia Kecil/The ‘A’ Team (PK) (yang badannya besar-besar) yang terdiri dari: bu Ochie (Ketua), bu Dewi (ibu ATM), pak Rio (penasehat), dan pak Irvi (penggerak J).

 

 

The ‘A’ Team

Irvi, Ochie, Dewi, Rio

 

Segera dilayangkan pengumuman melalu ‘efbi’ dan milis….. jreng…..  Tanggapannya sepertinya adem ayem.  Walaupun begitu PK tetap bergerak membuat persiapan:

 

-          Menghitung budget

-          Menghubungi gereja-gereja yang akan dilayani….. GKI Ngupasan Yogya, okay - confirm.  GKI Coyudan Solo, gak okay.  Cari gereja lain…. akhirnya bisa pelayanan di GKJ Manahan, secara Galilea punya ‘jalur khusus’ – kan gerejanya mbak Tri dan Deddy gitu lho …. :D

-          Mencari hotel dengan cara tanya mbak Christine (yang sering ke Solo) hotel murah meriah yang bersih dan nyaman :p; menghubungi mbak Tri (sopran yang lagi cuti panjang di Solo) untuk membantu mencarikan hotel.  Hotel di Yogya siapa yang bantu cari ya? J  Yogya: Hotel Kusuma di Condong Catur; Solo: Hotel Arini di Slamet Riyadi.

-          Mencari bis yang enak tempat duduknya, reclining seat, agar Galileans bisa tidur nyenyak (terutama nyaman bagi tulang-tulang yang sudah tidak muda lagi J).  Bis: Blue Star

 

Hari Kamis, 20 Mei 2010, suatu ‘gebrakan’ dibuat oleh bu Ochie, setelah selesai latihan, pada session pengumunan:

 

 

Bu Ochie: “Teman-teman, kita jadi pelayanan ke Yogya-Solo atau tidak?  Karena semua harus segera di-‘fix’-kan.  Waktu berjalan terus dan harus cepat memberi keputusan.”

 

Galileans menjawab dengan empat suara: “Jadiiiiii….. jadi dongggg!!!!!”

 

Bu Ochie: “Kalau jadi, minimum harus 25 orang yang ikut.  Kira-kira bisa gak dan siapa yang bisa?”

 

(Hampir semua Galileans yang latihan hari itu tunjuk tangan semua.)

 

Bu Ochie: “Okay lah kalau begitu PK akan jalan terus.  Biaya sebagian akan ditanggung dari kas Galilea dan Galileans dikenakan Rp500,000/orang.  Pembayaran bisa diangsur dan dibayarkan langsung ke ibu Dewi atau transfer ke rekening Galilea yang akan diberitahu melalui milis.”

 

 

Hari Kamis next-week-nya (27 Mei) Galileans mulai bayar-membayar.  Karena Dewi absent, diterima oleh Ochie.  Next-week-nya (3 Juni) bayar-membayar second phase ke Dewi.  Hari itu juga hard copy lembar acara dibagikan bagi mereka yang tidak ber-internet-an.  Bu Ochie janji akan mengirim rundown acara melalui milis juga.  Sepertinya semua segera pengin pergi, jalan-jalan, blanja-blanji…… (Apakah benar begitu, Galileans?)

 

PK terus bekerja mempersiapkan segala sesuatunya, agar diperjalanan nanti Galileans selalu bersuka-cita dan tidak ‘kelaparan’ (karena kalau kelaparan tidak bersuka-cita J).  Untuk keperluan tersebut ibu Ochie menghubungi ‘pensiunan’ Galilea yang berdomisili di Yogya, mbak Nurendah, untuk membantu memesankan makanan kecil khas Yogya.  Done!

 

 

Thursday, January 27, 2011

burung hantu

tadi pagi, baru berangkat jalan pagi, pas sampai di tikungan rumah pojok, ada 'bleberrrr', burung terbang dari rumputan ke atas pohon yang aku lewati.  weh, pagi-pagi kok sudah ada burung cari makan, padahal masih gelap (jam 5:15).  terus si burung terbang lagi pindah pohon, dan bisa dipandang mata.  ternyata burung hantu ukuran kecil.  mungkin anak burung hantu.  si burung memandangi daku yang berjalan dibawahnya, mungkin sambil berpikir: 'ngapain orang ini gelap-gelap keluar rumah? mau nyaingi aku ya?' .....

seneng, bisa liat burung hantu bebas beterbangan.  biasanya, kalau pas jalan pagi, cuma denger suaranya saja..... huk-huk-huk....

jalan kaki pagi hari ini ada indahnya dan sialnya.  indahnya, ketemu burung hantu .  sialnya, baru saja keluar sudah gerimis dan tiba-tiba menjadi hujan besar.  balik pulang dalam keadaan kuyup..... jadi orang rajin deh, pagi-pagi sudah mandi....

 

bsd city, 28 jan 2011

 

Saturday, January 22, 2011

tingkah anak-anak

Seminggu lalu Bagus bilang ke eyang-putrinya:  “Yangti, hari Senin Bagus harus bawa ‘pianica’.”

 

Yangti:  “Pianica? (gaya ngomong kayak kapten Haddock :D)  Ntar coba yangti tanyain ke bu Ninik ya, masih punya yang bekas enggak.”

 

Bagus:  Disekolahan juga ada sih yangti, tapi kalau pakai harus bayar.”

 

Yangti:  “Bayar?  Yah, mendingan punya sendiri dong.  Apalagi kalau bekas dipakai orang lain, orang lainnya sakit, ntar Bagus ketularan dong.”

 

…….

 

Eyang putri segera mengirim berita ke saudara-saudaranya lewat efbi, siapa tahu ada yang punya pianica bekas yang masih bisa dipakai.  Ternyata sudah tidak ada yang punya.  Waktu mereka pindah-pindahan rumah sudah di loakin.  Ya wis, gak papa.  Coba cari di Gramedia.  Ada.  Malah ada 3 jenis.  Cari yang paling murah aja deh.  Paling juga cuman dipakai waktu SD saja.

 

…….

 

Tadi pagi pianica diberikan ke Bagus.  Yangkung bilang bahwa harganya mahal.  Biar Bagus belajar menghargai barang-barang miliknya, baik yang murah maupun yang mahal.  Pesan lainnya adalah: pianica tidak boleh dipinjamkan ke teman-teman, habis dipakai tempat tiupnya harus di cuci dan di rendam pakai air panas baru disimpan, harus dirawat dan disimpan yang bener!!!

 

Seharian ini, sebelum berangkat sekolah Bagus belajar tiup pianica, pulang sekolah tiup lagi.  Habis makan siang, pianica-nya ditenteng kemana-mana, dikalungkan di badan, ditiup lagi.  Jadilah ‘satria berpianica’ bukan bergitar.  Lucu saja lihat Bagus jalan mondar-mandir pakai kalungan pianica…..  Dasar anak-anak, barang baru dibawa-bawa terus, sampai gak mau tidur siang.  Rumahku sekarang bersuara ‘do-re-mi-fa-so-la-si-do…. do-si-la-so-fa-mi-re-do….’  Hahahahaha…..

 

bsd city - jan 22, 2011

 

Friday, January 21, 2011

sakit harus dilawan

Kemarin, gara-gara ‘jengkeng’ (berlutut), jempol kaki kananku ‘kram’.  Walau hanya sebagian kecil dari tubuhku, tapi suakitnya ‘ruar biasa’ kalau dipakai ‘napak’ suakit sekaleeee.  Sama Tyas dan Irvi, kakiku disuruh lurus, terus mereka menarik kakiku kearah berlawanan agar lemas kembali.  Waktu disuruh jalan, wuaduh, sakit sekali untuk menapak.  Enaknya jalan sambil setengah jinjit.  Malam, sebelum tidur, sama mas Agni digosok dan agak diurut pakai ‘counterpain’.  Sakiitttt…..

 

Seperti biasa, pagi-pagi jam 4:45 aku sudah bangun, dan siap-siap mau jalan kaki.  Tak dipakai ‘napak’ kok masih sakit ya.  Ach, cemen ach, harus tetap jalan.  Mungkin dipakai jalan malah akan jadi sembuh.  Sebelum pakai kaos kaki, kakiku tak gosok pakai counterpain, dan siaplah aku untuk jalan pagi.  Langkah pertama aku nyengir kesakitan juga sih, tapi tetap tak paksa jalan.  Sambil jalan, aku menertawakan diriku sendiri.  Masak cuma sakit bekas kram saja jadi manja, ngeluh.  Bagaimana kalau seperti Yessica (teman paduan suara).

 

Yessica, yang belum 30 tahun,  terkena kelainan ‘gen’ dalam darahnya, yang menyerang persendiannya, sampai gak bisa jalan.  Sampai Yess harus berhenti kerja dan pulang ke rumahnya di Salatiga untuk menjalani pengobatan yang intensive.  Tapi dalam keadaan kesakitan seperti itu, Yess masih tetap bersuka-cita, masih tetap guyon.  Statusnya di ‘efbi’ selalu ceria di tengah-tengah kesakitan….  Salah satunya, ketika Yess harus ke rumah kost-nya yang dilantai 4: “aku pasti ntar kuat naik tangga…. kuat-kuat…. lantai 4 kecilllll “, atau ketika Yess harus ke Jakarta naik pesawat: sampai Jakarta yay.  enaknya naik kursi roda bandara wkwkwkwk.  Bersenang-senang dulu sebelum ngos-ngosan naek tangga kost”.  Kelihatan Yess berkeras hati untuk melawan sakitnya.

 

Sambil berjalan, aku memikirkan Yess.  Dengan sakitnya yang parah masih bisa tertawa-tawa.  Aku, yang cuma ‘kram’ kok ngeluh.  Sambil berjalan aku berdoa kiranya TUHAN memberikan kekuatan dan kesembuhan pada Yessica.

 

Tak terasa 45 menit lewat dan aku sudah kembali ke rumah.  Tak rasa-rasain kok kakiku masih sakit, tapi tidak suakiiitttt sesakit sebelumnya.  Tak oles counterpain lagi dan tak pakai nyapu dan ngepel.  Habis mandi tak oles lagi….  sekarang sudah sembuh, walaupun kalau di pegang masih terasa sakit.

 

Thanks ya Yess, kamu mengingatkan aku untuk tidak manja.  Doaku untuk Yessica, cepat sembuh, agar dapat menjalani kehidupan masa mudamu dan selanjutnya dengan kesehatan yang diberikan TUHAN.  Tetap bersuka-cita dan bersyukur dengan apa yang ada padamu sekarang ini dan kedepan nanti.

 

bsd city - jan 21, 2011

 

 

 

(photo-photo diatas diambil tgl 19 sep 2010.  yessica masih bisa jalan, tapi kakinya sudah sakit.  sooo.... teman-teman yang mendekat yess untuk photo bersama.....)

Thursday, December 30, 2010

kasihannnnn.....

caribbean - dec 31, 2010

 

Ada teman se-paduan suaraku, tetapi sudah luama sekali nggak aktif.  Dia seorang wanita yang biasa-biasa saja.  Pertama kali kenal ya biasa-biasa saja, nggak ada yang istimewa.  Lama-lama kok aku merasa orang ini aneh.  Kalau ketemu di gereja sehabis kebaktian, ya kita selalu saling menyapa, tidak lebih dari itu.  Kita sebut saja namanya mbak’E

 

Beberapa tahun lalu ‘belahan hatiku’ harus rawat inap di rspp.  Mbak’E ini, yang sudah sekian tahun gak ketemu, nengok.  Wah, terima kasih sekali mbak’E atas perhatiannya.  Setelah jam bezoek selesai, dan kamar rawat sudah mulai sepi, aku menerima telpon dari mbak’E katanya: “mbak Ninik, tadi aku njatuhin uang di kamar, apa sudah diliat dan diambil?”  Aku: “wah, gak ada tuh.  Coba nanti tak carinya.”  Mikir…… kalau mau ngasih, kenapa gak langsung dikasih aja?  Aneh.  Aku cerita ke saudaraku yang masih ada di kamar, dia malah bilang: “wong edan mbak, gak usah di reken.”

 

Waktu berlalu….. tahun lalu (2009), sehabis natal, mbak’E telpon.  Mengucapkan selamat natal bla-bla-bla….  Terus dia bilang: “mbak Nik, aku kirim buku-buku sudah diterima?”  Aku: “buku apa ya, kok gak ada ya.”  Mbak’E: “oooo belum ya.  Terus aku juga kirim uang dengan ‘telepati’ apa sudah sampai?”  Aku dalam hati: “ampyuuunnnn…. wong apa to iki?”  Aku: “enggak terima mbak.”

 

Terus dia cerita lagi: “aku waktu itu ke daerah ciledug, mau mampir ke rumah mbak Ninik tapi gak bawa alamatnya.  Aku sekarang lagi sakit mbak, kepalaku berdarah terus gak mau berhenti.”  Aku: “lho sakit apa to, apa sudah ke dokter?”  Mbak’E: “sudah, tapi belum ketauan sakit apa.”  Bla-bla-bla….. akhirnya aku yang memutus telpon, takut ‘ketularan’ gila…

 

Beberapa kali setelah itu mbak’E masih menelponku dengan cerita yang diluar pikiran normal.  Selalu tentang kirim barang atau uang dengan telepati….. ckckckkckck.  No. hp-nya aku catat.  Kalau yang nelpon dia, gak tak angkat…..  kacian deh.

 

Eeeeee tadi pagi, aku lagi ganti sprei, ada telpon dari mbak’E dan tak angkat.  Tanya-tanya yang gak penting dan tak jawab sekenanya, karena aku juga gak fokus ke telepon.  Lagi-lagi dia bilang: “mbak, aku pernah kirim uang pakai telepati terima gak?  Terus juga pernah kirim buku didalamnya ada uangnya, sudah diterima?”  Aku: “mbak, kalau kirim pakai telepati mana sampai?  Itu kan dunia maya ……” (lha kok aku ngeladeni orang edan ya….. J)  Biar gak lama-lama bicara, aku bilang 'selamat tahun baru' dan memutus telepon.

 

Sebetulnya, kasian orang itu.  Kayaknya perlu dibawa ke psikiater.  Kalau liat orangnya sih biasa-biasa saja, kayak orang normal dan kepalanya gak berdarah-darah.  Tapi kalau bicara bertatap mata, keliatan kalau pandangan matanya kosongggggg…. Gak focus.  Mungkin dia mempunyai angan-angan ngirimi aku uang ya….  Mungkin di ‘dunia’ khayalannya….. sambil mengangguk …. *tuing*…. Uangnya sampai di tabunganku.  Kacian…..

 

Apapun mbak’E…. TUHAN kiranya menyertaimu.