Wednesday, July 12, 2006

Katanya .....

Beberapa menit lalu


aku melemparkan pandang ke luar


dari kaca jendela besar di kantorku


sambil makan buah apel segar


 


Terlihat 'pohon-pohon' beton menjulang


menggantikan pohon-pohon yang berdaun hijau


yang mampu menyejukkan mata dan pandang


serta mendamaikan hati yang galau


 


Tiba-tiba lemas aku dibuatnya


ketika teringat suatu cerita bahwa,


tanah Jakarta sudah mulai ber-rongga


 


Akibat ulah manusia, air tanah tersedot habis


membuat tanah berlapis-lapis


suatu saat tak akan kuat lagi menanggung beban


yang berat dan menekan


 


grrrrrrr.................. 6.0SR ............ bruk-bruk-bruk ............


 


Mudah-mudahan tidak akan terjadi


seperti apa yang akau bayangkan


'pohon-pohon' beton ambles bumi seperti 'antarejo'


dan jakarta kembali 'djadoel'


 


 

Monday, July 10, 2006

LAMPU MATI............

Jam 3:30pm - Lampu mati.  Wah, enaknya pulang mungkin ya.  Tapi computer masih bisa di pakai.  Jadi pasti tetep disuruh kerja sampai jam 4:30pm.  Gak papa sih, tapi AC gak ada, udara kantor jadi panas, jadi keringetan..... serasa kerja di kelurahan deh .....  Kok jam lambat juga ya.  Mbok ya cepet-cepet, jadi biar bisa pulang....


PULAAAAANNNNNNNNNNNNNNNGGGGGG YUUUUKKKKKKK..........

Thursday, June 15, 2006

Makan tiada henti

Minggu ini kayaknya bakalan 'makan tiada henti' deh.  Gimana mau diet?  Sejak hari Senin, ada aja makanan, baik kecil maupun besar.


Senin - ada yang bawa bandeng asep dari Surabaya.  Wadhuh, enak betul.  Untung bisa menahan nafsu, tidak perlu tambah nasi, tapi nggado bandengnya.


Selasa - kalau dikantor ada rapat, pasti sekantor ikut makan.  Suguhannya 'nasi pecel madiun', belinya di casablanca.  Sedep - pakai srundheng, empal dan peyek kacang.


Rabu - ada rapat lagi.  Kali ini ada snack 'combro' dan 'kroket' dari toko kue 'Santa'.  Uenak tenan combronya.  Terus ada pastel tutup made-in toko kue TIVI.  Ini juga uenak.  Yah, kentang = nasi, jadi makan pastel tutup aja.  Buahnya .... anggur red globe yang guede-guede dan manis, sama jerusk thailand yang hijau tapi manis.


Kamis - hari ini - ada tamu dari kantor pusat NY.  Kita makan sama-sama dan rame-rame.  Menunya: masakan Manado Beutika.  Weleh-weleh, puedes-puedes tapi enak.  Makan nasi sesendok aja, yang banyak sayur kangkung sama sayur bunga pepaya, bakwan jagung, cakalang rica dan ayam rica.  Ada bebek juga sih, tapi saya gak suka bebek.  Dessert-nya: es lilin pluit.  Saya habis 3 'lilin' - ukuran kecil-kecil .... :)


Jumat - besok ada staff temporer yang akan pindah kerja ke Manado.  Jadi, besok ada makan-makan lagi, makan-makan perpisahan.  Kabarnya sih, mau pesan makanan di Sate Khas Senayan.  Tadi sudah disuruh milih menu sendiri-sendiri.  Kayaknya saya pilih nasi langgi deh, apa nasi kuning ya?  Lupa aku .....


Piye iki .... seminggu ini makan-makan terus.  Lumayan gratis terus.... ngirid ......   Tapi ya itu, gak dimakan salah, dimakan salah ......  mudah-mudahan saya tidak tergoda dengan 'snack before meal', biar tidak bertambah berat badan ini ..... :)


S. Widjojo - June 15, 06

Tuesday, June 6, 2006

Temanku sudah pergi

Di hari Senin pagi yang sunyi dan dingin


Pada tanggal 5 Juni 2006


Masih sangat pagi, TUHAN


Satu lagi temanku KAU panggil


Karena KAU lebih tahu


Akan saat yang terbaik baginya


Untuk kembali padaMU


 


Kami kira dia akan sembuh


Karena semua menginginkannya


Menurut kami, manusia ini


Tugasnya mendampingi kedua putri dan suaminya


Belumlah selesai


 


Tapi kehendakMU atasnya


Lain dari keinginan kami


KehendakMu, lebih indah dari kehendak kami


 


Selamat jalan temanku Hetty


Dikamar-kamar hatiku


Ada kenangan tentangmu


Ada yang indah, ada yang tidak


Tapi itu semua adalah kamu seutuhnya


 


Selamat jalan teman


Waktu tak akan surut mundur


Kelak waktu kamipun sampai


Ditempat pemberhentian yang damai


Dibawah naungan-NYA.


 


Jakarta, 6 Juni 2006


 


 

Thursday, April 27, 2006

Wadhuh..... piye iki

Kamis, 27 April 2006


17:00 Di kantor


"Hallo!!  Mas, jangan jemput dulu, aku tak mandi dulu ya.  Habis 'dansa' kalau gak mandi gak enak.  Nanti kalau habis mandi tak telpon."


"OK"


17:30 Di kantor


"Mas, aku udah siap kalau mau dijemput"


"Ntar dulu ya.  Masih ada beberapa yang musti dikerjain."


"OK - kalau udah sampai Senopati, telpon ya, biar aku matiin computer"


18:10


"Mim, aku udah keluar kantor nih, tapi ada masalah.  Tadi pagi aku lupa matiin lampu mobil, sekarang gak bisa di start.  Tunggu ya, aku lagi cari akal."


"Yaaaaa .... apa boleh buat.  Eyang kakung tenan kok .....Ya wis tak tunggu"


Nah .... sekarang penantian yang tidak tahu, sampai jam berapa akan dijemput.  Ya udah lah, tak cari makanan di pantry dulu lah.  Untung masih banyak yang dikantor.  Kalau tinggal sendirian, aku takuuuutttttt..............

Monday, March 13, 2006

Traditional Dance


“Kaki ‘mendhak’ ya.  Terus mendhak, jalan pun harus mendhak.  Posisi badan kalau dari samping jadi seperti ‘letter S’.  Pinggul jangan digoyang, karena, kalau kita jalan otomatis akan goyang sendiri.  Lutut rapat.  Liat saya dulu ya.  Ini gerakan pelan.  Satu-dua-tiga-empat-lima-enam-tujuh-delapan.”…..


 


Itu suara Ibu Iin, teman suamiku menari 30 tahun lalu, yang sedang melatih teman-temannya, yang sudah ‘overseks’ [over seked = lebih dari 50 tahun].  Tariannya kalau gak salah namanya ‘Jejer Banyuwangi’.  Dia satu-satunya yang masih aktif menari, karena masih menjadi guru tari di sanggar tari, dirumahnya.


 


Hari Sabtu itu, maksud hati hanya mengantar suami ber-reuni dan ber-nostalgia dengan teman-teman menarinya saat di UI 30 tahun lalu.  Ternyata saya dipaksa untuk ikut menari.  “Mbak, kita semua mulai lagi dari nol”, begitu kata bu Iin.  Ya wis lah, itung-itung olah raga.   Adhuh, rasanya kaku semua.  Maklum, sudah sejak 1968, sejak kelas 3-SMP gak pernah nari lagi, ditambah ‘dengkul’ sudah mulai pengapuran.  Tapi gerakanku gak jelek-jelek amat kok, hanya merasa lucu aja….. J


 


 

Wednesday, March 1, 2006

Semakin Tua

Kemarin mbakyu iparku sms, hari ini dia kirim email.  Intinya mengundang sodara-sodaranya untuk makan nasi kuning bersama, dalam rangka ultah mas-ku yang paling tua, yang tanggal 3 Maret besok berulang tahun ke 68!  68 lho!  Tak terasa, dunia [ku] sudah semakin tua.  Lha wong aku sendiri ternyata juga sudah tua lho! :)


Ketika aku lahir dan setahun kemudian pindah dari Purworedjo ke Wonosobo, mas-ku sudah harus masuk SMA dan dimasukkan Bapak-ku ke SMA Bopkri di Jogya.  Memang dia sering ke Wonosobo, tapi karena aku masih kecil, jadi tidak terlalu ingat.  4 tahun kemudian kami sekeluarga pindah ke Salatiga, dan mas-ku sudah mahasiswa di ITB.  Jadi praktis aku tidak pernah serumah dengannya.  Tapi kenangan indah bersama mas-ku selalu ada.


(Mas-ku ini paling sabar dari dua orang mas-ku yang lain.  Gak cepat marah dan bisanya tertawa atau diam.  Sampai beranak-pinak dan cucu, dia masih seorang penyabar.... juarang sekali marah ..... betul begitukah mbakyu ipar dan anak-anak?)


Beberapa bulan sekali, mas-ku pulang ke Salatiga.  Dia sangat 'ngemong' dan sayang sama aku [mungkin karena aku paling kecil].  Setiap kali, aku selalu di-'oleh-olehi' buku bacaan untuk anak-anak.  Sueneng sekaleeee.... Atau kalau sore, mas-ku mengajak jalan-jalan ke toko buku dan membelikan aku buku-buku bacaan.


Saat aku kecil, Salatiga adalah kota yang menyenangkan.  Kota dingin di kaki Gunung Merbabu, dengan jajaran pohon kenari di kiri dan kanan jalan.  Betul-betul sebuah kota peristirahatan dan kota pensiunan yang sangat tenang.


Kala itu, beberapa kali ketika mas-ku liburan, dia mengajak aku dan mbakyu-ku yang nomor 5 bersepeda keluar kota.  Tentu saja aku dibonceng, karena belum bisa naik sepeda sendiri.  Kami bertiga bersepeda ke jalan luar kota arah Solo, kira-kira 5 km dari arah batas kota, sampai di daerah Karang Duren.  Jalanan menanjak, tapi tidak masalah karena hawa yang dingin.  Ketika capek, kami menepi dipinggir jalan, dipinggir sebuah perkebunan [kalau gak salah kebon jeruk], duduk dipinggir sebuah kali/selokan kecil yang airnya mengalir dan bening.  Kami membuka 'sangu' kami yang adalah teh panas dan roti tawar isi muisjes.  Pokoke, waktu itu rasanya bahagia bangetttttt....  Saat itu jalanan Semarang-Solo via Salatiga belum seramai sekarang ... wuih .... sekarang .... wuih ..... kendaraan padet-det.


(Kini daerah Karang Duren ini gersang, kali/selokan kecil yang dulu bening sudah hilang tertimbun sampah .... huh sedihnya.)


Kalau mengenang saat itu, kepenginnya balik ke masa itu lagi.  Ketika hal biasa menjadi istimewa.  Ketika kota Salatiga masih bersih, masih tenang, masih dingin, masih rindang.  Sayang.... semuanya itu hanya bertahan sampai kira-kira akhir tahun 1970an.


Yah tak terasa, waktu berjalan dan berjalan dan tiba-tiba, dunia [ku] sudah bertambah tua.  Mas-masku dan mbakyu-mbakyuku sudah bercucu.  Keluarga besar ku sudah bercucu  11 orang.  Sementara ponakan-ponakan sudah bukan anak-anak lagi, sudah menjadi teman yang 'sama-sama tua', yang tidak bisa lagi 'digurui' tapi 'menggurui', tidak perlu lagi ditolong tapi yang sudah harus menolong kami-kami generasi diatasnya ... :)


Yah, dunia[ku], ternyata sudah semakin tua.  Tentu saja, aku pun semakin tua ..... :) .... sadar-sadar ....