Tuesday, May 1, 2007

KDRT

KDRT


Kekerasan Dalam Rumah Tangga



 


Hari             :         Minggu


Tanggal        :         29 April 2007


Jam             :         03:00 pagi – menjelang subuh


 


Ninik


Ketika pulang dari bepergian, hujan turun.  Mas Agni menyuruhku menunggu sementara dia mengambil mobil.  Ngambil mobil kok lama ya.  Aku menyusulnya.   Untung hujan sudah reda.


 


Sampai di tempat parkir, seseorang bilang: “Tunggu sebentar bu, bapak lagi ada kerjaan”.  Dan memang saya melihat mas Agni sedang duduk di meja mengerjakan sesuatu.


 


Dari pada menunggu, aku masuk ke rumah sebelah, yang ternyata adalah sebuah pemandian air belerang.  Banyak orang mandi dibawah shower.  Ach, boleh juga.  Aku ikut mandi.  Belum puas mandi tiba-tiba showernya mati.  Ya sudah lah, aku menunggu sambil duduk.  Tiba-tiba ….. pang…. ada sesuatu menghantam mukaku sebelah kiri … “adhuh” ….  Ibu yang duduk di sebelahku bilang: “Itu efek dari air belerang bu”…  ooooo ….


 


------ duh, kepalaku sakit, sampai lidahku rasanya seperti tergigit …….


 


Agni


Pagi-pagi mau sarapan.  Nasi lagi dikukus pakai dandang.  Ketika tutup dandang dibuka, didalamnya ada tikus.  Aku bilang ke Ninik: “Biarin aja, dikukus aja sekalian biar mati.  Nanti dibuang aja, toh nasinya juga gak bisa dimakan.  Kita tinggal jalan-jalan dulu yuk.”


 


….. jalan-jalan …..


 


Ketika balik dan membuka dandang, ternyata tikusnya masih hidup.  Aku ambil sendok dan aku pukul tikusnya….. plok……


 


© © © © ©


 


Fakta


Ninik    :           “Mas, kamu mukul aku ya?”


Agni    :           “Eee, maaf ya, maaf ya. “ (sambil memeluk Ninik)


 


Hahahaha…… berdua tertawa dipagi buta.  Ternyata mimpi kami berhubungan.


 


Bukan efek belerang, aku tapi kena pukul.


Bukan mukul tikus, tapi muka ku yang terpukul.


Sampai sekarang masih ‘njarem’ lho.


 


Itu kenangan ‘55’ ya mas….  Love you.


 


 

Thursday, April 26, 2007

kopi


secangkir kopi met creamer panas


 


kata orang:


kalau ngantuk, minum aja kopi


nanti kantuknya pasti hilang


 


kenyataan:


kalau ngantu, sudah minum kopi


ya tetep ngantuk aja kalau gak dibawa tidur


kopinya musti diminum


atawa ditetesin ke mata sih


 


seharusnya:


kalau ngantuk ya tidur


tapi kalau lagi kerja dikantor


seperti hari ini …..


zzz…..  zzzzz…..  zzzzzzz 


 



 


Wednesday, March 28, 2007

3-M

Males


Muales


Muaaaallleesssss


 


Hari ini kenapa tidak seperti kemarin?


Kemarin, berangkat kantor rasanya enak sekali


Santai, pikiran ringan, hati senang


Suasana di kantor yang sedang 'CLEANING DAY'


Bekerja serius, tapi bisa sambil tertawa


Jalan sana-sini


 Tapi hari ini .....


Dari jam 9:00 sudah harus duduk manis di conference room


Untuk ikut 'English Couse' - huh ----


Bosen .... sama guru-nya ..... bosen denger suaranya


Bosen sama caranya ngajar


   Bored 


Ohhhhh..... tapi harus ikut - kan ini program kantor


Ohhhhh - nasib ....





Wednesday, March 7, 2007

..... gak terbayang ....

Gara-gara kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta, seharian kemarin (Rabu, 7 Maret), konsentrasi kerjaku terganggu.  Ooohhh….. hatiku serasa bersama mereka yang tertimpa musibah, maupun sanak-saudara yang menunggu kabar berita.  Gak terbayang kalau hal itu terjadi pada diriku.  Apalagi salah satu penumpang adalah orang PU yang mas Agni kenal.  Di list penumpang namanya ada, tapi di list korban tidak ada.  Aku jadi membayangkan, bagaimana perasaan isterinya, tidak tau suaminya ada dimana.....


 


Seharian itu, detik.com aku pasang terus.  Sebentar-sebentar tak liat, ada berita apa lagi – pengin tau berapa dan terus berharap agar semuanya bisa terselamatkan.


 


2 minggu lalu aku wira-wiri ke Yogyakarta pakai pesawat GA-200 itu.  Oooohhhh….. gak kebayang, gak kebayang.  Lebih-lebih, waktu tanggal 25 February – kami sekeluarga besar, saudara kandungku plus suami-isteri-nya dan beberapa keponakan, jadi satu ‘tumplek-bleg’ naik GA-200 – yang berangkat dari Jakarta jam 06:00 pagi, agar sampai di rumah almarhumah mbakyu-ku bisa bersama-sama.  Duh, gak kebayang …. L


 


Yah, musibah bisa terjadi dimana saja.  Ketika TUHAN berkehendak, manusia tidak bisa menghindar.  So, kita semua harus tetap siap dan dekat selalu dengan SANG PENCIPTA.


 


Kiranya TUHAN memberikan ketabahan, kesabaran dan kekuatan bagi yang terkena musibah dan memberi kekuatan bagi keluarga yang ditinggalka.

Thursday, March 1, 2007

Kehendak-Mu Jadilah

Kehendak-MU jadilah


 


Mb’End,


Mas dan adik-adik-mu kaget


Ketika dengar bahwa kamu masuk rumah sakit tanggal 7 Februari 07 lalu


Bukan karena penyakit asma yang menjadi ‘milikmu’


Tapi karena kerasnya obat osteo-artristis(?)


Yang akhirnya mengganggu ‘maag’-mu


Yang membuat kamu sulit untuk makan maupun minum


Yang membuat kamu dehidrasi sehingga mengganggu syarafmu


 


Lebih mengejutkan lagi ketika mbak Djoe cerita


Ketika dia menjengukmu


Mb’End sama sekali tidak mengenali mbak Djoe


Juga tidak mengenali Dhidhut, Devi, maupun Rully, anak-anak-mu sendiri


Bahkan namamu sendiri, kamu tidak ingat lagi!


Ini membuat mas Kardjo, suamimu sangat sedih dan terpukul


 


Seminggu kemudian kamu harus masuk ICU


Kabarnya, karena kamu kekurangan oksigen - jadi perlu ruang isolasi


Menjauhkanmu dari orang-orang yang menjengukmu


Yang begitu banyak, mereka yang menyayangimu


Sehingga dokter Laksmi bilang:


‘keluarga ini memang susah diatur’


 


Hari Sabtu, 16 Februari 07


Butetet dan aku terbang pagi ke Yogya


Dan kami langsung ke RS Bethesda dimana kamu dirawat


Kamu masih di ruang ICU


Kami bisa masuk ruangan setelah mendapatkan ijin khusus


 


Ooo Mb’End, banyak sekali selang ditubuhmu


Ada 2 selang infuse, selang sonde, kateter dan suntik


Ada alat ukur temperature dan tekanan


Oh - syaraf mata kanan-mu sudah terganggu


Tapi kamu masih bisa melihat dengan yang kiri


Butetet memanggil namamu:


‘Mb’End, iki Tatik karo Ninik tilik’


Kamu bereaksi – menggumankan sesuatu, tapi tak jelas


Dan kamu berusaha bangun


Tapi tak mungkin, karena kedua tangan & kakimu diikat


Agar Mb’End tidak melepas selang-selang


Yang bergelantungan disekelilingmu


 


Mb’End,


Sedih melihat keadaanmu seperti itu, tapi kami masih berharap


Kamu akan menjadi lebih baik, bisa sadar kembali


Bisa pulang kerumah dan berkomunikasi dengan semua


Walaupun kamu nantinya harus selalu berkursi roda


 


Minggu siang, 18 Februari – kabar gembira


Kamu bisa dipindah ke ruang rawat biasa, Puji TUHAN


Artinya: kami bisa berdekatan dan berinteraksi denganmu


Jam 20:15 – kamu masuk kamar 309


Butetet dan aku mencoba berbicara denganmu


Dan bisa membuatmu tertawa


Tapi hatiku sedih, melihat mas Kardjo, suamimu


Dia berdiri dipojok, aku lihat dia menangisimu, Mb’End


 


Kami tak bisa lama menunggui-mu, Mb’End


Kami harus kembali ke hotel


Besok pagi-pagi kami akan kembali ke Jakarta


 


Esok hari, Senin, 19 Februari – sebelum meninggalkan hotel


Aku menelpon, dik Ning, adik iparmu


Katanya, semalam kamu tidurnya gelisah


Menjelang pagi hari baru kamu bisa tidur


 


Sore hari di Jakarta, aku mendapat SMS dari dik Ning


‘Mbak Endang harus masuk ICU lagi, nafasnya berat’


Ya ampun …. ke ICU lagi


Menjelang malam aku menelpon mas Kardjo, suamimu


Ini jawabannya:


‘Karena nafasnya berat, dokter minta ijin memasang ventilator


Anak-anak tadi sudah tak telpon minta persetujuan


Mereka sudah setuju semua.


Paru-parunya lemah sekali, dan alat adanya hanya di ICU’


Keputusan yang paling tepat untukmu, Mb’End


Kami berharap sedikit demi sedikit


Paru-parumu dapat kembali bekerja sendiri


Tanpa bantuan alat ini


 


Hari Jumat pagi, 23 Februari – Rully, anakmu, mengabarkan


‘Ketergantungan Mama pada ventilator tinggal 10% saja.


Doakan cepet membaik ya Ten’


Tentu saja Rul, kami semua selalu berdoa untuk-mu mbak Endang


Kabar gembira ini, aku sebarkan ke mas-mas dan mbak-mbak


Semuanya mengucap syukur atas hal ini


 


Sabtu, 24 Feb 07 – handphone aku nyalakan sekitar jam 7:00


*cring* - ada sms dari Restu, menantumu:


‘Dari Dhidhut: - Pagi ini jam 6:45, dokter Hendra panggil saya.


Tekanan darah mama turun drastis, sehingga kesadarannya hilang.


Contact yang kemarin mama bisa, sekarang hilang juga.


Mohon doanya’


Aku segera mem-forward SMS ke mas-mas dan mbak-mbak


 


*Dheg* … tekanan darah turun – kesadaran hilang


TUHAN, apa yang akan terjadi dengan mbakyuku


Apakah ini waktu-MU?


 


Jam 8:30 - Mas Agni dan aku berangkat ke gereja untuk suatu acara


Belum sampai di gereja


Handphone-ku berdering – Butetet menelpon


‘Nik, mbak Endang wis ora ana mau jam 9:15’


Aku lemas – aku bengong – dan aku nangis


Aku kehilangan mbakyuku yang cerewet tapi penuh perhatian


Aku kehilangan saudara kandungku


 


TUHAN, ternyata harapan dan kehendak kami


Tidak sama dengan kehendak-MU


Kami lupa untuk berserah


Kami hanya menginginkan kemauan kami sendiri


Kami lupa untuk mengingat dan mengatakan:


‘Kehendak-MU saja jadilah’


 


©©©©©


 


Minggu pagi, 25 Feb 07


Mb’End, diruang tengah rumahmu, mereka membaringkanmu


Dalam tidur panjang-mu


Tak ada lagi rasa sakit yang kau rasakan


Tak ada lagi kesesakan


Wajahmu damai, damai dan tersenyum


Mb’End, engkau telah bertemu dengan TUHAN


Bertemu dengan Bapak dan Ibu


Tugasmu di dunia:


mendampingi suami dan anak-anak-mu usai sudah


Kini engkau damai disamping Bapa Surgawi


 


Selamat jalan mbak


Saudaramu yang masih tersisa ini


Akan terus berkarya bersama-NYA


Sampai saat kami masing-masing pun tiba


 


Selamat jalan mbak


Kami kehilangan – tapi ini adalah yang terbaik


Yang TUHAN telah pilihkan bagi-mu


Bagi keluargamu, bagi kami saudara-saudaramu


 


Dalam guyuran hujan deras kami beriringan


Mengantarkan jasadmu ke tempat pembaringanmu terakhir


Jauh disana, di Gunungsumpu, Bantul


 


Selamat jalan mbak


Kami mengasihi dan mencintaimu


Dan kamu akan tetap ada di hati kami


Dengan segala kenangan yang pernah kita rajut bersama


Sewaktu aku kecil, sampai aku menjadi tua


 


SELAMAT JALAN MBAKYUKU

Thursday, February 15, 2007

"catatan harian" seorang ......

CATATAN HARIAN – dari mulai sakit sampai sembuh …. ooohhh DBD


 


Rabu, January 24, 2007


 


Mas Agni gak enak badan dari sejak siang hari.  Katanya, sudah minum ponstan sudah agak enak.  Tapi sekitar jam 21:30 tak ukur temperaturnya … …. wuih … 40.2!  Mikir ….. musti berbuat apa nih!


 


Bawa ke RSPP aja lah.  Aku minta tolong tetangga sebelah, Pak Pur, untuk nyopirin, untung pak Pur belum tidur.  Sementara aku siap-siap baju, siapa tau harus menginap.  Sampai di IGD-RSPP mas Agni langsung di infuse berwarna ‘pink’ seperti sirup ‘coco pandan’ dan di ambil darah untuk di test.  Kira-kira satu jam kemudian, badannya keringetan dan suhunya turun sampai 36.8.  Normal.


 


Jam 24:30 hasil test darah menunjukkan tidak ada yang mencurigakan dan boleh pulang,setelah infuse habis.  Dokter jaga memberi resep dan surat pengantar untuk control.  Pulang …..   Sampai dirumah sudah 02:30 dan baru siap tidur jam 3:00!  Wuahhem…. nguantuk sekaleee…..


 


Kamis, January 25, 2007


Kehidupan rutinitas-ku berjalan seperti biasa.  Bangun jam 04:30 [jadi tidur hanya 1.5 jam!], mandi, dandan dan siap berangkat kantor jam 05:30.  Temperatur badan mas Agni waktu tak tinggal, normal-normal aja.


 


Jam 10:00 aku ijin pulang cepet.  Sampai dirumah sekitar jam 11:00 – lho mas Agni kok panas lagi.  Tak thermometer – 39.8!, dengan keluhan pusing, mual dan  ulu atinya sakit ya…. L


 


Sampai sore panasnya gak turun-turun.  Kebetulan mbakyunya mas Agni, mbak Christine dan suaminya, mas Donny, ke rumah.  Kita bawalah mas Agni ke dokter umum langganan, dr. Made, di Apotik Shangrilla.  dr. Made bilang, kemungkinan tipus, tapi bisa juga DBD.  Dikasih anti-biotic untuk menghantam tipusnya, dan surat pengantar check laboratorium, kalau besok sore panasnya tidak turun-turun.


 


Udah minum obat, udah tidur.  Lha kok kira-kira jam 03:00 pagi, tak ukur temperaturnya kok masih 39 sih!


 


Jumat, January 26, 2007


Hari ini aku gak ngantor.  Mas Agni masih panas tinggi, diatas 38.  Terus aku liat kok ada bintik-bintik merah di tangan dan kakinya …. tuing …. jangan-jangan DBD ya….. wah apa yang musti aku perbuat?  OK – mas Agni harus cek darah!  Aku menelpon laboratorium apotik Nidea.  Mereka kiriim orang untuk mengambil darah mas Agni.


 


Menjelang jam 11:30 hasil lab sudah jadi dengan jumlah tromposit 165!  Wadhuh …. Harus ke RSPP nih.  Sekali lagi minta tolong pak Pur untuk antar ke RSPP.  Untung hari itu pak Pur tidak ke kantor.


 


Sampai di IGD-RSPP, sesuai prosedur, mas Agni langsung di infuse.  Darah tidak perlu diperiksa lagi, karena sudah bawa hasil lab dari rumah.  Dokter menyarankan untuk segera cari kamar.  OK – sudah dapat kamar 1B – 439 di lantai 4, gedung baru.  Jam 15:30 mas Agni siap masuk kamar.  Yahhhh ……mulailah ‘kehidupan’ rumah sakit yang monotone, yang harus kami jalani (tentu saja aku akan nungguin mas Agni sampai sembuh kan).


 


Sabtu, 27 Januari 2007


Pagi-pagi diambil darah, check tekanan darah.  Mas Agni masih bisa mandi sendiri, setelah infuse-nya dicopot sementara.  Tapi makan dan minum tetep susah/sedikit, karena lambungnya sakit. Hasil darah pengambilan pagi – trombosit 107.  Turun ich!


 


Perawat yang jaga malam memberitahu aku:  ‘Bu, bapak positive kena DBD.  Banyak minum aja, bu.  Obatnya cuma cairan kok, baik infuse maupun minuman’.  OK-lah suster.


 


Minggu, 28 Januari 2007


Hasil darah hari ini: trombosit turun lagi jadi 33!!!  Ayo dong mas, minumnya yang banyak, biar naik dong…. L  Tapi gimana ya, kasian mas Agni.  Kalau dipaksa minum, ulu atinya sakit, malah mau muntah.


 


Senin, 29 January 2007


Aku memutuskan cuti 2 hari untuk menemani mas Agni.  Hari ini mas Agni tidak boleh turun dari tempat tidur sama sekali.  Saya tanya: ‘kenapa?”.  Ternyata trombositnya sudah turun jadi 13!!!  Suster jaga malam memberitahu aku bahwa: ‘trombosit pak Agni sudah naik satu point bu, jadi 14’.  Bersyukurlah.  Katanya kalau sudah ada kenaikan, akan naik terus.


 


Selasa, 30 Januari 2007


Setiap hari, rumah sakit memulai kegiatannya jam 5 pagi.  Pagi itu  Mas Agni pengin kebelakang, tapi tidak jadi karena pusing dan pindah tiduran di sofa (tempat tidurku).  Kali kedua mas Agni mencoba ke kamar mandi mau ‘pup’ dan mandi sekalian.  Ech, malahan mau pingsan dan keluar keringat dingin sampai bajunya basah kuyup.  Tiduran lagi.  Terus suster bilang, ‘pup ditempat saja bu, pakai pispot’.  Karena tak biasa, batal deh ‘pup’-nya..


 


Habis makan siang di kantin, aku mampir ke kantor suster untuk menanyakan jumlah tromposit ….. 11!!!!  Ya ampun, kok turun lagi.  Lha gimana mau naik, yang sakit gak bisa minum banyak dan makan.  OK – nanti kalau dokter dateng aku mau lapor tentang ulu ati yang sakit.


 


Dr. Hariadi berkunjung sekitar jam 14:30.  Aku lapor bahwa ulu ati mas Agni sakit, jadi gak bisa minum banyak maupun makan.  Diperintahkan untuk suntik anti mual, tapi suster bilang ‘kan udah Dok.’  Kemudian dokter tanya tentang hasil ‘pup’ (kebetulan menjelang tengah hari mas Agni bisa ‘pup’).  Aku laporkan bahwa warnanya gelap menuju kehitam-hitaman!  Langsung doker memerintahkan untuk pasang ‘sonde’ (pipa kecil yang dimasukkan dari hidung sampai ke lambung) untuk periksa lambung mas Agni, takut kalau ada pendarahan.


 


Wadhuh, kok jadi serem gini.  Aku keluar kamar dengan pikiran yang agak bingung, merasa sendiri dan takut penyakit mas Agni tambah parah.  Aku menjauh dari kamar karena gak tega liat mas Agni ‘disakiti’ sonde.  Aku menyendiri sambil berdoa, minta kekuatan dari TUHAN.  Rasanya pengin nangis, tapi aku tahan.  Dalam hati aku terus berdoa, dan kemudian aku diberi-NYA kekuatan untuk menelpon Suryani (adik mas Agni) dan Witri, dengan pesan, jangan bilang-bilang orang dulu ya!  Dan kemudian, aku merasa tenang dan yakin bahwa, tindakan medis yang dilakukan, akan membuat mas Agni merasa lebih nyaman karena perutnya bersih.  Yang artinya, akan bisa makan dan minum dengan enak, yang akan membantu proses naiknya trombosit.  Aku tenang dan yakin bahwa, inilah jawaban TUHAN yang terbaik bagi doa-doa yang aku panjatkan.


 


Kira-kira 10 menit aku liat suster yang bertugas memasang sonde keluar dari kamar.  Aku segera masuk.  Mas Agni sedang kesakitan dan muntah-muntah.  Aku pegangi tangannya sambil bilang: ‘muntah aja mas, sudah ditampung kok’.  Muntahannya tidak keluar dari mulut, tapi langsung mengalir dari pipa sonde, yang langsung ditampung disebuah kantong.  Ya ampun, yang keluar merah … darah …  Salah satu suster sedikit berteriak: ‘ada pendarahan – oksigen’ ….  Cepat-cepat – gerak cepat, ambil selang oxygen, disambung ke saluran oksigen,  Mas Agni muntah dan muntah lagi, darah campur isi lambung!  Ooooohhhhhh……


 


Dengan oxygen, mas Agni agak tenang, walaupun sebentar-sebentar ngeluh: ‘ada yang ngganjel di tenggorokanku’ – ya tentu saja, ada selang disitu kan.  Aku hanya bisa menghibur:‘sabar ya pah, perutnya lagi dibersihin.  Papah tidur aja, biar gak terasa sakitnya’.


 


Jam 18:00 dilakukan pembersihan pertama.  Dimasukkan air es segelas ke dalam lambung mas Agni.  Air es ini gunanya untuk membekukan sisa-sisa darah, serta menutup urat-urat darah yang pecah.  Kemudian disedot kembali.  Tindakan ini akan dilakukan sehari 2x sampai tidak ada lagi tanda-tanda pendarahan, baru sonde bisa dicabut.  Malam hari dapat kabar baik, trombositnya sudah naik jadi 21.


 


Rabu, 31 Januari 2007


Karena sudah ada pendarahan di lambung, mas Agni harus di-transfusi ‘plasma/trombosite’ untuk mempercepat kenaikan trombosit.  Hari ini dimasukkan 10 kantong @ 300ml.  Hari ini lambung disemprot 2x dan sudah mulai bersih.  Siang hari trombositnya sudah naik jadi 62.  Puji TUHAN.


 


Kamis, 1 February 2007


Hari ke 2 transfusi – 10 kantong lagi.  Hasil cuci lambung hari ini bersih, sudah tidak ada tanda-tanda pendarahan lagi.  Air yang keluar dari lambung sudah bening.  Sekitar jam 10:00 suster memberitahu bahwa trombosit sudah naik lagi jadi 91.  Puji TUHAN.  Satu jam kemudian, sonde sudah bisa dibuka.  Makan siang dan malam berupa bubur.  Mas Agni belum bisa makan banyak, tapi sudah bisa minum banyak, sudah tidak pusing maupun mual.


 


Jumat, 2 February 2007


Hari itu dokter tidak datang berkunjung.  Mungkin karena banjir dimana-mana, yang menghalangi perjalanannya.  Mas Agni sudah mulai complaint pengin pulang, sudah sehat, sudah bosen di rumah sakit.  Lha tapi gak bisa, wong dokter belum kasih ijin pulang.  Hari itu trombosit naik jadi 192.


 


Sabtu, 3 February 2007


Akhirnya dokter datang juga sekitar jam 8 pagi.  Setelah semua data diliat, mas Agni diperbolehkan pulang.  Trombosit hasil ambil dara pagi adalah 232!!! Horeeeee…


 


Mau pulang aku kelabakan.  Mas Agni gak punya baju untuk pulang, karena selama di RSPP kan pakai baju seragam.  Jadi… pergilah aku ke Heritage untuk beli celana panjang dan t-shirt.  Mau pulang juga musti mikir, enaknya lewat mana.  Saat itu Jakarta lagi ‘diserang’ banjir.  Akhirnya, cari jalan putar yang pasti tidak kena banjir: lewat Jl. Fatmawati, naik toll Pondok Indah kearah Bintaro, turun di Jl. Veteran Bintaro, masuk Bintaro, lewat Jl Pondok Betung, masuk Jl. Cipadu Raya, dan akhirnya masuk Taman Asri dari belakang.


 


Terima kasih TUHAN – mas Agni sudah boleh sembuh.  Terima kasih karena semua kesesakan telah berakhir.  ENGKAU telah memberikan yang terbaik bagi kami, kesabaran, penyerahan diri dan iman pada-MU.


 


Tuesday, September 5, 2006

Ya Ampunnnnnn...........


Senin, 4 September 2006


 


08:45 – di kantor


 


Riiiiiinnnnnggggggggggg


Indah  :         Mbak Nur, ada telepon dari rumah ……


 


Nur    :         Apa Nduk?


Nduk  :         Bu, ada orang mau minta daun cincau


Nur    :         Ya situ, boleh.  Tapi ‘maprasnya’ [motongnya] yang rapi ya.


Nduk  :         Iya Bu



 


 


17:30 – turun dari taxi di depan rumah


 


Nur melihat tumpukan kayu cincau dan daun-daun salam koja, diikat dan ditumpuk di depan ‘regol’ [pintu pagar].  Nur menengadah keatas dan ……


 


Nur    :         Ya ampun, ya ampun, ya ampun……. lha kok pohon cincauku habis …. gimana sih orang itu, minta daun kok dipotong habis semuanya …. L


Nduk  :         Iya Bu, tadi Yuli tinggal nyuci, terus waktu Yuli ke depan sudah habis semua seperti ini.


Nur    :         Ya ampun nduk, nduk – kenapa gak ditungguin sih.  Pasti kamu tadi salah ngomong.  Ya ampun ….. wah jan, mbok pikiran kamu itu dipakai to nduk, nduk.  Ibu kan bilang, boleh ambil, tapi motongnya yang rapi.  Bukannya dipotong semua.  Orang minta itu ya harus tau diri, masak dihabisin kayak gini.  Kamu itu ya bodo kok.  Ya ampunnnnnnnnnnnnn ……  Liat tuh, pohonnya gundul jadi panas kan.  Pohon itu kan buat iyub-iyub [peneduh] mobil.  Wis jan, kowe ki bodo tenan kok.  Ampun, ampun …..  Coba, tadi kamu ngomongnya gimana?


Nduk  :         Tadi malah orangnya mau nebang pohonnya, tapi saya bilang jangan, dipapras saja.


Nur    :         Lha kok kamu gak nungguin itu lho.  Kan tadi ibu gak bilang gitu.  Maksud ibu, di papras itu ya bukan semuanya, papras beberapa batang, gak digundulin kayak gini.  Udahlah, kamu itu memang pikirannya gak pernah dipakai …. L  Bukannya tambah pinter, malah tambah bodo.  Yul, Yul…..


 


Kepenginnya pulang kantor itu tanpa masalah.  Ech, lha kok pembantuku bikin masalah.  Katanya lulusan SMP, SMP desa = SD …  yach sabar, sabar …. yang penting jujur …..  Tapi kalau pas bodonya ‘kumat’, sebel juga lah.


 


Sebel tak bawa senam biar ilang.  Ech, pulang dari senam, sampai rumah liat onggokan daun dan batang, mangkel lagi….  sampai mas Agni pulang.  Komentar mas Agni: ‘Kan udah tau kalau pembantunya bodo.  Lain kali kalau ada yang mau ini itu, suruh bilang tunggu ibu pulang, atau suruh bilang gak boleh.’


 

Hiiiiihhhhhh, sebel – musim hujan kan masih lama, lha tumbuhnya kan jadi terhalang.  Yaaaaaaaaaaaaaaa …